Ranah Teater, Peserta KABA Festival #2

Mite Kudeta, karya/sutradara S Metron Masdison, adalah judul garapan Ranah Teater yang akan dipentaskan dalam Kaba Festival #2 pada Sabtu (12/12) tahun ini.

Berturut-turut pada tahun sebelumnya, grup yang berdiri sejak tahun 2007 ini selalu tampil dalam Kaba Festival yang cukup meriah, perhelatan seni pertunjukan tahunan di Ladang Tari Nan Jombang tersebut.

Pada 2014, Ranah Teater membawakan pertunjukan yang berjudul Sandiwara Pekaba. Sementara pada tahun 2013, ketika Kaba Festival masih bernama Ilau Pantai Barat Sumatra, mereka menampilkan Dua Senja.

Dua nomor pementasan terakhir berlatar sejarah perang antara kaum padri dengan kaum adat di Minangkabau.cukup meriahkah pemetasan tahun ini dari tahun kemaren?

Mite Kudeta, berdasarkan sinopsis pertunjukan, berawal dari kaba Cindua Mato, kisah tentang panglima perang yang kemudian dinobatkan menjadi raja Pagaruyuang itu.

Pahlawan yang mengembalikan marwah kerajaan Pagaruyuang setelah membunuh Imbang Jayo dan Tiang Bungkuak, musuh dari kerajaan Pagaruyuang.

“Kaba Cindua Mato merupakan cerita dengan varian paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan kaba-kaba lain yang ada di Minangkabau. Juga telah kerap dijadikan bahan mentah bagi para pegiat seni berbagai genre. Sebutlah misalnya, naskah drama yang ditulis Wisran Hadi, Cindera Mata. Saya mencoba mencari kemungkinan lain,” ujar S Metron Masdison, pendapuk karya Rabu (2/12).

Kemungkinan itu termaktub dalam tiga hal yang menarik sekaligus berbeda dari konsep dasar pertunjukan Ranah Teater kali ini.

Pertama, Mite Kudeta bercerita tentang peristiwa setelah Bundo Kanduang, Dang Tuanku, dan Puti Bungsu mengirab dengan kapal yang turun dari langit, sementara Cindua Mato menjadi raja alam Minangkabau.

Artinya, peristiwa terakhir dalam kaba Cindua Mato adalah awal dari cerita Mite Kudeta. Sang Sutradara sepertinya mengasumsikan, bahwa mengirab ke langit hanyalah metaforis, ada peristiwa yang absen di sana.

“Kenapa ketiganya mengirab justru ketika Cindua Mato berhasil menaklukan musuh-musuhnya dan kembali ke kerajaan Pagaruyuang? Bukankah Cindua Mato menempuh jalan maut demi ketiga orang ini? Yang paling memungkinkan untuk mengisi kekosongan peristiwa adalah bahwa Cindua Mato membunuh Bundo Kanduang, Dang Tuanku, dan Puti Bungsu,” ujar alumnus Fakultas Ilmu Budaya Unand ini.

Alasan paling kuat untuk melegitimasi tindakan Cindua Mato ini, lanjut Metron adalah cinta dan kekuasaan. Dalam teks kaba, memang ada indikasi hubungan gelap antara Cindua Mato dengan Puti Bungsu.

Dengan kekuatan yang dimilikinya dan sengkarut asal-usul Cindua Mato, barangkali ia juga merasa lebih berhak atas tahta Pagaruyuang dibandingkan Dang Tuanku.

Kedua, Dalam versi Mite Kudeta, perjalanan Cindua Mato selanjutnya adalah melarikan diri dari kerajaan Pagaruyuang, setelah desas-desus bahwa Cindua Mato membunuh ketiga orang tersebut tersebar.

Ia berjalan ke arah pesisir barat dan bertemu dengan Anggun Nan Tongga. Di hadapan Raja Pesisir sekaligus kakak Puti Bungsu itu, Cindua Mato membuat pengakuan bahwa ia memang telah membunuh ketiga orang tersebut.

Dua tokoh kaba yang paling besar di Minangkabau dipertemukan dalam satu peristiwa. Cindua Mato penguasa daerah darek dengan Anggun Nan Tongga penguasa daerah pasisie. Dalam masing-masing teks kaba, memang tidak ada yang mengindikasikan bahwa dua tokoh ini bertemu.

Namun, jika ditelisik, ada kesamaan struktur narasi antara kaba Cindua Mato dengan kaba Anggun Nan Tongga, keduanya sama-sama pergi dari kerajaan masing-masing dan pulang kembali setelah menaklukan musuh-musuhnya demi cinta dan kekuasaan.

Keduanya juga sama-sama hanya memperoleh kekuasaan dan kehilangan cintanya. Cindua Mato kehilangan Puti Bungsu, Anggun Nan Tongga kehilangan Gondoriah.

Ketiga, ketika kembali ke Pagaruyuang, Cindua Mato menemukan kerajaan telah dikudeta oleh Basa Ampek Balai dengan bantuan Belanda.

Dalam keadaan genting itu, Cindua Mato meminta pertolongan kepada Tuanku Imam Bonjol, ya, pahlawan kaum Paderi itu. Yang nama dan kepahlawanannya dicatat oleh fakta-fakta sejarah.

Yang menarik pada pertemuan antara Cindua Mato dengan Tuanku Imam Bonjol ini adalah usaha-usaha untuk meleburkan separoh fiksi dari tokoh kaba dengan catatan faktual dari sejarah, peristiwa fragmentaris dari kaba dengan peristiwa kronologis dari data sejarah.

Pada titik ini, Metron beranggapan karya seni akhirnya berfungsi sebagai pengisi kekosongan yang dilupakan oleh data sejarah. Seperti abad-abad tak tercatat dalam masa lalu Minangkabau.

Dengan piranti imajinatifnya, karya seni sanggup mengkonstruksi kekaburan peristiwa-peristiwa masa lampau, dan menggabungkan berbagai teks yang berbeda kaidah-kaidahnya.

Bagaimana pertunjukannya? Saksikan saja di malam kedua, yang akan dimulai pada pukul 20.00 di Ladang Tari Nan Jombang Balai Baru Padang.