Pemuda Nagari Lunto Menampilkan kesenian

Kelompok pemuda asal Kenagarian Lunto Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menampilkan kesenian "Randai" kreasi baru pada ajang Sawahlunto Multicultural Festival 2015, Sabtu.

Koordinator kelompok pemuda yang tergabung dalam group Randai "Tapian Janiah" tersebut, Seprisyam S Hum(22), di Sawahlunto, Sabtu, mengatakan ia bersama rekan-rekannya mendirikan group Randai itu sejak dua bulan yang lalu.ungkapnya

"Penampilan kali ini kami menggabungkan empat jenis aliran silat yakni Silat Kumango, Silat Bungo, Silat Pauh dan yang paling unik adalah ditampilkannya gerakan Silat Harimau dalam pertunjukan kami,"kata dia.

Dalam gerakan tersebut, lanjutnya, dikemas dalam sebuah kisah "Kaki Takabek Tangan Taikek" yang menceritakan tentang seorang pemuda suku Minang bernama Pamenan Mato yang dijodohkan dengan putri pamannya bernama Pandeka Sutan.

Selain sebagai pamannya, lanjut dia, Pandeka Sutan juga guru silatnya serta panutan yang selalu mengiringi perjalanan hidup Pamenan Mato yang sudah yatim piatu.

" Dalam Kisah ini menggambarkan bagaimana tanggung jawab seorang mamak atau paman disuku Minang pada masa dahulunya, yang dikenal selalu mengayomi dan melindungi keponakannya,"katanya

Baginya, pesan moral itulah yang ingin disampaikan kelompok pemuda tersebut karena melihat bagaimana peranan seorang "ninik mamak" semakin menipis dan nyaris kehilangan wibawa dimata keponakannya seiring berjalannya waktu pada era globalisasi seperti saat sekarang ini.

Terkait aliran randai yang masih tergolong baru dan unik tersebut, dia menjelaskan konsep tersebut ia terima dari salah seorang seniman randai yang juga dosen disalah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia, Universitas Andalas, yakni Alm Zilfrian Gusnaldi.
Dalam cerita ini memang ada perubahan dikit dari cerita ini, namun beliau selalu berpesan agar jangan pernah meninggalkan tradisi asli seni Randai, termasuk nilai-nilai dan tata cara yang terkandung didalamnya," uangkapnya.

Seorang anggota kelompok tersebut, Asri(20), untuk mengolah gerakan-gerakan yang ditampilkan tersebut, ia bersama seluruh anggota kelompok tersebut selalu melakukan latihan rutin seminggu sekali.

Terkait kendala yang dihadapi kelompoknya itu, kekurangan sarana prasarana pendukung seperti pakaian seragam adat serta dukungan peralatan musik tradisi, masih membelit mereka.

"Tapi kami tetap semangat dan terus berusaha mempertahankan seni budaya tradisi turun temurun yang diwariskan dari nenek moyang, hal itu dapat dilihat dengan telah munculnya seniman-seniman randai dari tingkat pendidikan dasar, yang secara bersama-sama sudah ikut berlatih bersama mereka," jelas dia.

Sehingga,lanjutnya, harapan untuk terus melestarikan kesenian asli suku Minangkabau itu, tetap terbuka lebar dan menjadi tujuan utama mereka sebagai "Anak Nagari Lunto".

Senada, Ketua Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lunto, Irwan Malin Pangulu, meminta kepada seluruh pihak terkait didaerah itu, agar memperhatikan potensi seni tradisi asal Nagari Lunto, sehingga mampu tumbuh dan berkembang menjadi salah satu ikon pariwisata kota itu, sebagai kota wisata tambang yang berbudaya.

"Atas nama kaum ninik mamak di nagari Lunto, kami sangat mengapresiasi dan akan terus mendukung pengembangan seni tradisi yang dilakukan para pemuda nagari itu,"ungkapnya.