Perkampungan Adat Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung Masuk Tentative List World Heritage C

Share :

Sumatera Barat dapat kehormatan terpenting dalam perjalanan sejarah kebudayaannnya, yakni masuknya Perkampungan Adat Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung Kabupaten Sijunjung dan Kota Tambang Bersejarah Sawahlunto Kota Sawahlunto dalam Tentative List World Heritage Cultural Unesco pada 30 Januari 2015.

Perjuangan menuju kearah tersebut sudah lama dilakukan. Sawahlunto sudah berjuang sejak tahun 2004 dan Sijunjung sendiri sudah berjuang sejak tahun 2013. Namun usaha ini belum berakhir namun berproses. 

Dipilihnya Sawahlunto sebagai Tentative List World Heritage Cultural Unesco tidak terlepas dari argumentasi bahwa kota ini dikenal sebagai kota tambang batu bara tertua di Asia Tenggara yang merupakan representasi tahapan penting dalam evolusi pertambangan batu bara dunia.

Keberadaan industri ini memberikan nilai kemanusiaan bagi masyarakat disekitarnya, seperti pembangunan fasilitas kesehatan untuk pekerja dan pejabat, bahkan menjadi rumah sakit terbesar di bagian tengah Sumatera. Tempat ini juga representasi pertukaran budaya, karena banyak pekerja yang di datangkan dari berbagai daerah.

Kemudian kawasan Sawahlunto memperlihatkan struktur perkotaan yang terintegrasi dengan aktivitas industri. Konsentrasi kawasan diadaptasi dari kondisi geografis dan masyarakat setempat. Karakter yang tampak antara lain, dapur umum, fasilitas kesehatan, hunian pekerja, dan kantor administrasi.

Selanjutnya perkampungan adat Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung adalah representasi perkampungan dan masyarakat matrilineal Minangkabau. Perkampungan ini berlokasi di Kabupaten Sijunjung yang terletak diantara dua sungai yakni Batang Sukam dan Batang Kulampi serta dilingkupi oleh hutan, perbukitan, sawah ladang sehingga menampilkan suatu landscape yang sangat unik.

Perkampungan ini terhampar sekumpulan rumah gadang (adat house) sebanyak 76 buah sebagai simbol kaum (clan) berbasis matrilineal yang masih berfungsi dan dibangun tertata rapi dalam satu kawasan. Bahkan perkampungan adat ini merupakan sebuah kawasan eksotis, memiliki banyak keunikan dan keunggulan dibandingkan dengan daerah lain.

Setiap rumah gadang memiliki areal penunjang berupa lahan pekarangan, pandam pakuburan, lahan perladangan (parak) dan sawah yang terintergrasi dengan masing-masing rumah gadang. Bangunan rumah gadang didirikan tidak mengelompok menurut suku, tapi membaur antar suku, dan masing-masing ninik mamak, orang tua suku dan tungganai memiliki 1 (satu) rumah gadang.

Satu hal yang paling memperkuat argumen kearah tersebut yakni komitmen masyarakatnya masih kuat dalam mempertahankan fungsi rumah gadang sebagai tempat hunian mereka dan sebagai tempat prosesi adat.

Tidak hanya keberadaan rumah gadang yang masih lestari di kawasan ini, tetapi kemampuan masyarakatnya dalam melestarikan adat istiadatnya di dalam rumah gadang tersebut, antara lain adanya kegiatan batagak gala, baralek nikah kawin, dan kematian. Selain itu juga masih lestarinya adat istiadat batobo kongsi, bakaua, dan mambatai adat dan lain sebagainya.