Grup Musik Etnik Sumbar, Talago Buni Akan Keliling Eropa Untuk Tampilkan Kesenian Minangkabau

Talago Buni, Grup musik etnik Sumatera Barat akan berkeliling Eropa usai menggelar pertunjukan musik kontemporer di Paviliun Indonesia pada Pameran Buku Frankfurt (Frankfurt Book Fair) 2015.

Artistic Director Talago Buni, Edy Utama mengatakan "Kami bangga bisa ikut menampilkan kesenian dari Minangkabau pada acara Frankfurt Book Fair dimana Indonesia menjadi guest of honour (tamu kehormatan)," ujarnya dikutip dari Antara.

Menurutnya, usai menghibur pengunjung Paviliun Indonesia selama Frankfurt Book Fair, grup musik Talago Buni akan melanjutkan tour di beberapa kota di Jerman yang berlangsung hingga Desember 2015.

Di Jerman, Talago Buni akan tampil tunggal di 15 kota dari 20 Oktober hingga 18 November 2015 di gedung-gedung opera yang berkelas dunia, seperti di Philharmonie, Berlin.

Tidak hanya itu, penampilan Talago Buni di Teater In Der Brotfabrik di Bonn juga akan direkam kemudian disiarkan di sebuah radio di Jerman.

Edy Utama mengakui bisa tampil di Jerman sangat berarti. Hal Ini membuktikan bahwa kreativitas yang berbasiskan tradisi mendapat pengakuan secara internasional. 

Ini juga membuktikan bahwa warisan budaya memiliki suatu hal yang sangat bernilai, ujar Edy Utama,

Pada setiap pertunjukkannya, grup musik yang digawangi Edy Utama, Leva Khudri Balti, Febrianti, Muhammad Halim, Susandra Jaya, Emri, dan Syafni Erianto itu akan main selama satu jam tanpa jeda.

Sebagai informasi, Talago Buni didirikan pada tahun 1998 yang bertujuan untuk mengembangkan musik kontemporer yang muncul dari musik rakyat Minangkabau, Sumatra Barat.

Kelompok musik yang beranggotakan para musisi yang berbasis di Institute Seni Indonesia-Padangpanjang ini membius penonton dengan alunan tujuh repertoar variatif yaitu dawai bagaluik, bakutiku, muaro peti, galuik sijombang, galuik sampelong, pupuik lambok, dan kundarano.

Menurut Edy Utama, grup musik Talago Buni berupaya mengembangkan alat seruling tradisional bahkan menciptakan yang sama sekali baru, seperti drum besar yang terbuat dari kayu pohon kelapa. Bahkan dialek lokal dan teknik khusus dari trance bermain vokal untuk musisi dari Talago Buni dalam komposisi baru mereka peran penting.

Semua musisi dari Talago Buni belajar musik di Indonesia dan Tur internasional pertama mereka membawa mereka ke Jerman pada tahun 1999, di mana di festival "TFF Rudolstadt" dan lain-lain muncul.