Uniknya Tradisi Perang Pisang di Ampalu Sutera, Pesisir Selatan

Ada suatu tradisi menarik di nagari Ampalu, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan. Pada kamis siang (6/8/2015), terlihat di halaman sebuah rumah, dua kelompok wanita paruh baya bertengkar hebat. Anehnya kelompok wanita ini memakai setelan pakaian adat, namun keduanya saling cibir, olok dan ejek dalam dialog bahasa setempat.

Tiba-tiba, salah satu kelompok yang dikawal 2 (dua) orang bodyguard berkostum daun karisiak (daun pisang yang sudah kering), menurunkan barang bawaan (panci besar berkain warna-warni) yang tadinya dijujung.

Panci berisikan puluhan buah pisang rebus tadi, didekatkan ke pimpinan mereka. Seolah isyarat, si pemimpin sontak mengambil isinya, dan melemparkan ke arah kelompok lawan. Tak mau kalah, kelompok diserang pun membalas lemparan dengan bahan yang sama.

Tradisi ini disebut dengan Tradisi Perang Pisang alias Parang Pisang (bahasa setempat). Sebuah prosesi budaya adat unik yang masih tersisa ditengah masyarakat di Pessel. Prosesi digelar setiap ada keluarga yang melahirkan anak kembar sepasang alias kembar laki dan perempuan. Ritual ini dilakukan oleh keluarga pria dan perempuan dari pasangan suami istri (pasutri) alias orangtua dari bayi kembar tersebut. Masing-masingnya akan menyiapkan puluhan buah pisang (jenis pisang batu). Pisang-pisang yang telah disiapkan kemudian direbus, dan dimasukkan ke dalam panci besar bertudung kain warna-warni, untuk dijadikan hantaran (bawaan). Namun, bawaan tadi bukannya untuk dimakan. Tapi, digunakan sebagai senjata untuk saling serang (lempar).

Menurut warga setempat, aksi ini menggambarkan luapan amarah 2 (dua) keluarga, yang rebutan hak membesarkan si kembar. Menurut mereka, dua anak tersebut harus dijaga super ketat. Tidak boleh dipisahkan, hingga mereka dewasa. Sebab kalau terpisah, si kembar diyakini tidak akan mengenali saudaranya lagi. Saking lupanya, bisa terjebak kisah asmara, hingga berujung pernikahan yang notabene diharamkan. Seandainya hal ini terjadi, si kembar akan diusir keluar dari kampung. Sanksi ini juga dikenakan ke keluarga yang membesarkan, karena dinilai gagal menjaga si kembar sepasang.

Salah seorang warga nagari Ampalu Sutera, Rudi (34) yang tak lain adalah ayah dari sang bayi kembar mengungkapkan, pelaksanaan prosesi ini adalah bentuk dari pelestarian kebudayaan lama yang ada di daerahnya. Dia yang baru saja dikaruniai anak kembar sepasang bernama Dava (laki) dan Diva (wanita), menambahkan kalau dia bersama keluarga besarnya (termasuk keluarga sang istri) justru bangga, sebab masih bisa melaksanakan helatan unik tersebut.  
   
"Ini tradisi lama milik Nagari Ampalu. Dan selaku masyarakat, kami sekeluarga senang masih bisa menggelarnya," kata Rudi.

Etek Gadih, (52) mertua dari Rudi ikut mengisahkan sebuah mitos dari para tetua di kampung tersebut. Konon dulunya, pernah ada satu keluarga yang tidak mau melaksanakan ritual ini, kendati melahirkan anak kembar sepasang.

Meski tetua adat saat itu mengingatkan, orangtua si kembar bersikukuh tidak mau melaksanakan. Malah, dengan congkaknya menuding para pemuka adat sebagai seorang pembohong besar. Akibatnya, kejadian yang dicemaskan itu pun terjadi. Saat dewasa, si kembar lupa diri. Mereka terjebak hubungan asmara, hingga berujung pernikahan sedarah. Melihat kondisi ini, Tetua adat pun marah. Bersama-sama dengan masyarakat, keluarga tadi pun diusir dari Nagari Ampalu. Sejak kejadian itu, para masyarakat setempat tak berani lagi mencemooh kebudayaan parang pisang.  

"Parang Pisang ini tergolong Budaya Tradisional Nagari Ampalu. Menyoal mitos percaya tidak percaya, semua berpulang kepada diri kita masing-masing," tutup Etek Gadih.