Ratusan Penonton Berjejer Menyaksikan Acara Pacu Jawi di Payakumbuh

Pinggiran Sawah Lakuang yang terletak di Kelurahan Payobasuang, Kecamatan Payakumbuh Timur, Senin (27/7) dipadati ratusan penonton yang berjejer. Terlihat beberapa ekor jawi mulai berjalan menuju sebuah garis yang diberi nomor melintasi sawah yang memiliki panjang 150 meter tersebut.

Jawi yang diiringi satu joki dan satu tukang lepas tersebut mulai berbaris di daerah yang akan dijadikan tempat untuk memulai balapan yang dikenal masyarakat setempat sebagai Pacu Jawi. Jawi yang mulai berumur 1-1,5 tahun ke atas tersebut mulai liar dengan lari ke sana kemari. Tapi joki dan tukang lepas yang memegang jawi dengan sikek atau salah satu alat pengendali jawi yang terbuat dari kayu dan bambu tersebut dengan sigap menahan dan mengatur jawi pacuan tersebut.

Dari pinggiran sawah, penonton mulai menyemangati beberapa ekor jawi yang akan segera di lepas dengan bersorak. 

”Siap, yaaa!!” teriak pemandu sorak atau tukang genjot ini dengan semangat.

Jawi yang telah dilatih dan diberi makanan serta vitamin oleh pemiliknya tersebut mulai berlari yang diiringi oleh joki yang siap membawa jawi untuk berpacu. Satu persatu joki yang tidak kuat menahan jawi pacuan tersebut pontang-panting dan terjatuh.

Hingga akhirnya joki yang kuat dan jawi kencang sampai di ujung sawah dan dinilai oleh panitia yang tergabung dalam Persatuan Olahraga Pacu Jawi (PORWI).

Setelah race tersebut berakhir kembali pemandu sorak mulai memanggil jawi-jawi yang berasal dari 11 nagari di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Limapuluh Kota tersebut untuk berpacu.

Seperti dilansir dari news.padek.co, Ketua Pelaksana Zulfikar Datuak Patiah Nan Panjang mengungkapkan tradisi pacu jawi ini sebetulnya telah ada sejak zaman Belanda. Sehingga pacu jawi yang digelar selama 4 hari yaitu 21-22 Juli dan 27-28 Juli tersebut sebagai upaya dari masyarakat Payobasuang melestarikan nilai budaya tradisional Minangkabau khususnya di Luak Limopuluah ini.

“Kegiatan pacu jawi ini juga diharapkan meningkatkan silaturahmi warga Payobasuang dan para pecandu olahraga jawi. Kemudian juga dengan para perantau yang pulang melihat kampung halamannya,” ujar Zulfikar yang juga Ketua RT3/RW3 Kelurahan Payobasuang.

Iven pacu jawi ini juga bertujuan untuk meningkatkan harga jual jawi terutama jawi yang juara dalam setiap pacuan jawi. Menurutnya hasil dari pacu jawi yang diadakan ini juga sepenuhnya diperuntukkan untul beramal yaitu membantu pembangunan mushala.

“Hasil dari pacu jawi ini akan disumbangkan ke mushala Baitul Mukmin yang saat ini masih dalam tahap pembangunan. Menurut catatan pembukuan, mushala di RT3/RW3 Kelurahan Payobasuang ini masih terhutang sebesar Rp 33 juta,” kata Zulfikar didampingi Irwan Suwandi selaku Lurah Payobasuang .

Alek pacu jawi yang terakhir digelar pada tahun 2006 ini mendapat sambutan baik dari Irwan Suwandi selaku Lurah Payobasuang yang sangat mendukung alek nagari ini. Ia merasa sangat bangga kepada masyarakat Payobasuang yang telah mengangkat acara pacu jawi ini sehingga banyak mendatangkan manfaat bagi warga sekitar.

“Saya sangat senang dan bangga sekali melihat ide kreatif dari warga yang bergotong royong menyelenggarakan pacu jawi sebagai budaya tradisional daerah ini. Sehingga ke depannya saya berharap warga Payobasuang dapat lebih meningkatkan kepedulian dalam membangun kelurahan Payobasuang sebagai kelurahan yang saiyo sakato,” ujar Irwan

Tercatat 90 ekor jawi terlibat dalam olahraga pacu jawi yang menghibur masyarakat di sekitar Kelurahan Payobasuang ini. Jawi-jawi ini berpacu dalam beberapa kelas yaitu kelas I, II, dan III serta kelas boko. Kelas I menempuh jarak 120-125 meter dan kelas II menempuh jarak 110 meter. Sedangkan untuk kelas III dan boko masing-masing menempuh jarak 100 meter dan 150 meter.

Hal lain yang menarik dari kegiatan ini adalah nama-nama yang dipakai untuk jawi yang tergolong unik, sebut saja Nan di Hati, Lahar Marapi, Sabai, Azzura Jr, Stoner, Miang, Kalabu Asok, Si Ngiang-ngiang, Kijang Kencana, Mahkota Mandi Angin, Si Ketek Mantiak, dan Merah Agam