Robin Cassuto (ASO) : TDS Memiliki Prospek

Robin Cassuto (ASO) : TDS Memiliki Prospek

Project Manager ASO Business Development Robin Cassuto sebagai konsultan TdS pada saat iven Tour de France 2013 lalu, mengingatkan agar dominasi kepala daerah dalam menentukan rute dihilangkan jika iven ini memang benar-benar sport tourism.

“Disain etape mesti dilakukan orang-orang yang berpengalaman dalam olahraga ini, seperti mantan pebalap dan organisasi yang menaungi balap sepeda. Mereka harus dilibatkan sejak awal,” ingatnya ketika itu di hadapan rombongan tim Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Sumbar serta sejumlah bupati dan wali kota yang dipimpin Wakil Gubernur Muslim Kasim.

Menurut Robin, TdS merupakan aset olahraga wisata balap sepeda Indonesia yang memiliki prospek. ASO punya mantan pebalap internasional untuk bisa diajak survei rute selama 3 hari. Setelah itu, mereka membuat skenario rute yang datar, berbukit, daerah pegunungan dan sirkuit.

“Kriteria dalam pemilihan rute harus tepat, menarik, dan memiliki tantangan bagi pebalap serta memunculkan daya tarik media internasional. Jadi, menarik bagi orang yang menontonnya dan disukai pebalap,” tambahnya.

Catatan lainnya adalah dalam memenej seremonial pembukaan TdS. Saat start dan finish seharusnya tidak perlu berlangsung lama yang selama ini banyak diisi pidato para pejabat karena bisa memengaruhi semangat pebalap yang sudah fokus ingin mengikuti lomba.

“Anda perlu memperkenalkan pebalap masing-masing tim saat upacara pembukaan. idealnya, upacara protokol tidak boleh melebihi 15 menit. Jika ada pertunjukan seni tradisional, dilakukan setelah upacara pembukaan sehingga itu bisa menjadi aset yang kuat dari TdS,” katanya.

Perkenalan para pebalap bisa memunculkan kebanggaan dari pebalap yang hadir dari berbagai negara tersebut, dan masyarakat pun bisa menjadikan mereka idola ketika balapan.

Dia juga menyarankan agar penyelenggaraannya dilakukan sebelum tour pebalap di Australia atau setelah Langkawi. Harapannya, pebalap-pebalap top dunia yang biasa tampil di Tour de France dan ikut iven di dua negara itu bisa singgah mengikuti iven TdS.

Secara terpisah Ketua Asita Sumbar  Ian Hanafiah menyebutkan, promosi yang apik merupakan upaya dalam menyukseskan iven ini. Apalagi, TdS iven tahunan.

“Jika dijalankan dengan baik bisa meningkatkan kunjungan wisata. Kegiatan ini merupakan sarana promosi wisata yang perlu diikuti perbaikan berbagai sektor yang berkaitan dengan wisata,” katanya.

Praktisi Pariwisata M Zuhrizul menyebutkan, tim dari Pemprov Sumbar dari sekarang perlu berkoordinasi dengan Asita untuk menyiapkan promosi iven ini ke travel agent yang ada di luar negeri.

Menurutnya, memang Sumbar belum mampu meniru Tour de France yang mampu menyedot belasan juta orang dalam sekali iven. Tapi setidaknya dari sekarang pola kerjanya dalam berpromosi secara bertahap sudah harus diikuti.

“Misalnya dengan memanfaatkan jaringan travel agent dan KBRI yang ada di luar negeri, kirim brosur dan video TdS tahun-tahun sebelumnya ke mereka sehingga bisa ditayangkan dalam berbegai pertemuan di sana. Tidak perlu harus pejabat ramai-ramai ke sana karena mengeluarkan uang banyak,” kata M Zuhrizul.

Selain itu, para pebalap yang mengikuti TdS bisa diajak menikmati paket wisata yang tidak hanya fokus para keindahan alam yang juga banyak di luar negeri. Namun, wisata yang mengadopsi kearifan lokal budaya masyarakat kita.

“Misalnya, ada waktu trip khusus untuk mereka menikmati pacu jawi, atau ajak mereka bagaimana menanam padi di sawah. Libatnya juga masyarakat industri kreatif untuk menyiapkan merchandise khusus TdS dalam berbagai bentuk seperti baju, topi, stiker dan lainnya sehingga brand TdS kian memasyarakat,” ujar pengelola Lawang Adventure Park ini. (*)