Gubernur Minta Perantau Liburan Berwisata ke Kampung

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno mengapreasiasi pola interaksi antara masyarakat Minangkabau di kampung halaman dengan perantau. Soalnya, pola hubungan tersebut berdampak positif terhadap kemajuan di kabupaten dan kota di Sumbar.

Hal itu dikatakan Irwan dalam acara silaturahim dengan organisasi perantau Minang di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi dan Ikatan Keluarga Minang Provinsi Banten, di Hotel Balairung, kawasan Matraman, Jakarta Timur, Minggu (7/12).

“Saya sangat bangga dengan perantau Minangkabau. Sejauhmana pun merantau, saudara-saudaranya di kampung halaman tetap dibantu. Ini sangat menolong roda perekonomian di Ranah Minang,” kata Irwan. Selain bangga akan tradisi membantu kampung halaman, gubernur mengapresiasi kebiasaan perantau Minang di masa-masa liburan panjang dan Idul Fitri untuk pulang kampung. Liburan panjang ini juga dimanfaatkan untuk mengunjungi objek wisata.

“Karena pulangnya berbarengan, jalan-jalan penghubung sering macet. Kalau sudah begitu, gubernur lebih memilih naik kendaraan Patwal polisi ketimbang BA 1. Bagi saya ini biasa saja. Ini contoh bagaimana orang Minangkabau pulang kampung dan jalan macet. Positifnya, banyak uang ditinggalkan di kampung,” ungkap politisi PKS itu.

Demikian juga cara perantau Minang membantu kampungnya. Dalam kondisi normal, menurut Irwan, para perantau hanya fokus membantu kampungnya dalam konteks per kabupaten atau kota saja. “Perantau asal Kota Padang tidak mau membangun Kota Bukittinggi misalnya. Kecuali, untuk kondisi bencana alam. Begitu juga halnya kalau saya minta perantau Minang membantu bangun masjid di Kabupaten Pesisir Selatan, hanya perantau kabupaten itu saja yang mau bantu. Perantau lainnya tidak mau bantu,” kata Irwan.

Terkait perantau membantu membangun masjid di tanah kelahirannya, selalu disebutkan bahwa bantuan itu dari hamba Allah. “Diumumkan dari hamba Allah, lalu disebutkan juga nama penyumbangnya. Bagi kami di kampung tidak masalah juga. Biarkan itu berjalan, pemda hanya berharap agar lebih ditingkatkan kontribusi itu,” harapnya.

Lebih lanjut, gubernur mengajak perantau Minang mengarahkan bantuan keuangannya bagi saudaranya ke sektor produktif. Misalnya, membangun sektor  peternakan sapi dengan pola bagi hasil atau berternak ikan lele.

“Pola bagi hasil itu jauh lebih tinggi manfaat ekonominya di banding menyimpan uang di bank. Penghasilan dan hiduik saudara-saudara kita batambah baik, tapi uang tidak habis,” sarannya.

Berbagai usaha ekonomi mikro tersebut lanjutnya, adalah jawaban atas yang realistis terhadap kondisi geografis Sumbar yang lebih banyak kawasan hutan lindungnya ketimbang lahan pertanian.

“Saat ini, rata-rata kepemilikan lahan per penduduk di Sumbar hanya sepertiga hectare, dan itu tidak bisa dimekanisasi. Apa jadinya kalau orang Minang tidak merantau. Saya patut juga bersyukur banyak yang merantau. Kalau perlu semakin banyak yang merantau, biar lahan bisa lebih banyak untuk yang tinggal di kampung,” harapnya. (*)