Upaya Jepang Menarik Wisatawan Muslim

Beberapa hari yang lalu seorang teman mengirim link sebuah artikel dari mashable.com bertanggal 2 November 2014 yang berjudul “Japan is trying to become a better destination for Muslim Tourist”, yang diterjemahkan berarti “Jepang berusaha menjadi tujuan yang lebih baik untuk wisatawan Muslim”.  Artikel ini mengulas bagaimana Jepang, sebagai sebuah negara industri maju juga memandang penting dan memasukkan pariwisata ke dalam program revitalisasi untuk menggenjot perekonomiannya.

Seiring dengan akan dilaksanakannya Olimpiade 2020 di Tokyo, Pemerintah Jepang berusaha menggenjot industri pariwisata mereka dengan menargetkan 20 juta wisatawan pada saat Olimpiade berlangsung nanti.

Industri pariwisata Jepang sempat terpukul sangat parah setelah gempa dan Tsunami tahun 2011 dan juga sengketa wilayah dengan Tiongkok yang menyebabkan turunnya jumlah wisatawan asal negara Tirai Bambu itu secara drastis. Namun saat ini pariwisata Jepang sudah jauh membaik. Pada tahun 2014 untuk periode Januari sampai dengan September jumlah wisatawan mencapai rekor 9,7 juta pengunjung, naik 26 % dari periode yang sama pada tahun 2013 lalu. Jumlah wisatawan Muslim terbesar datang dari Malaysia sebanyak 158.500 pengunjung (naik 52,3 %) dan Indonesia 111.400 pengunjung (naik 13,4 %).

Sangat menarik mencermati upaya Jepang melakukan berbagai perbaikan untuk menarik wisatawan Muslim dari Indonesia dan Malaysia. Selain pemerintah Jepang membuat kebijakan bebas visa bagi wisatawan Malaysia dan Indonesia, upaya perbaikan juga dilakukan oleh para stakeholder industri pariwisata seperti pusat perbelanjaan, exhibition center, restoran dan lain sebagainya. Mereka sudah mulai mengetahui berbagai kebutuhan wisatawan Muslim seperti ruangan shalat yang representative dengan tempat berwudhu dan arah kiblat yang jelas serta makanan yang halal dan bebas alkohol.

Takashimaya, salah satu jaringan pusat perbelanjaan terbesar di Jepang baru-baru ini telah membuka ruangan tempat shalat yang amat layak lengkap dengan tempat berwudhunya. Tokyo Big Sight Exhibition Center yang merupakan salah satu pusat eksebisi dan pameran terbesar di Jepang juga menyediakan tempat shalat sementara pada even “Japan International Machine Tool Fair 2014”. Malah penyelenggara pameran menyatakan akan menjadikan ruangan shalat tersebut sebagai tempat permanen.

Terkait makanan halal, semakin banyak restoran-restoran lokal yang memahami bahwa daging babi dan alkohol diharamkan dalam Islam. Daging yang dihalalkan pun harus dipotong dengan cara yang telah ditetapkan. Selain menyediakan makanan halal, daftar makanan (menu) pun dibuat juga dalam bahasa Inggris sehingga pengunjung Muslim bisa mengetahui dengan mudah jenis makanan yang bisa dimakan serta cara pengolahannya. Pemakaian teknologi canggih pun diterapkan untuk pencarian restoran halal melalui aplikasi smartphone dan GPS.

Semua upaya tersebut di atas tidak lain adalah untuk bagaimana membuat wisatawan lebih nyaman ketika berkunjung. Tidak dapat dipungkiri bahwa industri wisata apabila dikelola dengan baik akan mendatangkan devisa karena industri pariwisata tidak akan habis bahan bakunya. Sumatera Barat sudah memiliki keindahan alam dan kekayaan adat budaya sebagai daya tarik pariwisata yang dahsyat kita tinggal hanya harus memenejnya saja dengan pintar dan bijak.
Apabila Jepang sebagai negara maju yang tingkat kesejahteraannya sudah jauh di atas kita saja mau melakukan upaya-upaya serius untuk menjaring lebih banyak wisatawan mengapa kita tidak? Khususnya di Sumatera Barat, kita harus bersama-sama menjadikan kampung halaman kita sebuah destinasi ideal untuk dikunjungi wisatawan. Apapun upaya pemerintah daerah baik di level provinsi maupun di kabupaten dan kota untuk memajukan pariwisata tidak akan berhasil tanpa dukungan masyarakatnya.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Jepang beserta stakeholders pariwisatanya bukanlah hal yang rumit dan sulit untuk diaplikasikan. Mereka hanya menganalisa apa kebutuhan dan keinginan para wisatawan yang berkunjung ke negara mereka dan menyediakannya. Karena mereka sangat menyadari apabila keinginan dan kebutuhan tersebut dipenuhi maka pengunjung akan merasa nyaman dan diperhatikan, yang pada akhirnya akan menarik lebih banyak lagi pengunjung untuk datang.

Mari sama-sama kita mulai dari hal-hal mendasar yang bisa kita lakukan sendiri seperti menjaga kebersihan, berlaku sopan dan ramah. Adalah tugas pemerintah Daerah membuat WC umum dan membangun infrastruktur di objek-objek pariwisata namun adalah kewajiban kita bersama untuk menjaga kebersihan dan keberadaannya. Bagi kita yang berdagang terutama di objek-objek wisata mari utamakan kejujuran dan keramah-tamahan.

Kita bisa bersama-sama menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung misalnya dengan menegur apabila ada oknum-oknum yang menggangu seperti misalnya pemalak berkedok penjual suvenir dan lain sebagainya. Pemerintah daerah perlu mengefektifkan polisi pariwisata untuk memantau objek-objek wisata yang dapat menciptakan rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Bagi yang tidak bersinggungan langsung dengan wisatawan bisa berpartisipasi dengan menjaga perilaku termasuk juga dengan bersopan santun yang baik di jalan raya.Ayo mari kita bersama-sama menjadikan Sumatera Barat  daerah tujuan wisata yang aman, nyaman dan peduli dengan menjadi tuan rumah yang baik untuk para tamu-tamunya! (*)
SebelumnyaSelanjutnya