Songket Dukung Wisata Sawahlunto

Pemko Sawahlunto menghadirkan iven Festival Songket Silungkang Sawahlunto selama lima hari terakhir. Dalam iven ini ditampilkan ratusan helai hasil kerajinan tenun songket. Bahkan, juga dihadirkan songket sepanjang 22 meter hasil karya tangan pengerajin INJ Silungkang.

Festival dibalut dalam Sawahlunto Expo 2014 yang dipusatkan di Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto. C.J Tiong, satu satu anggota Indonesian Fashion Designers Association mengatakan, iven tersebut sangat menarik.

Selain mempromosikan kekayaan kerajinan tradisional yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini, juga sebagai sarana pengembangan industri kerajinan di tengah masyarakat nasional dan internasional.

Tiong mengaku tertarik mengombinasikan motif dan corak yang ada, dari beberapa daerah penghasil tenun songket.

Harapannya, kombinasi dan kalaborasi antara motif yang ada, akan muncul selera baru di tengah masyarakat. “Sehingga tidak terjadi kejenuhan terhadap pasar kerajinan songket itu sendiri,” ujarnya.

Tiong mengakui kerajinan tenun songket memiliki sisi sangat menarik. Apapun yang hendak dibentuk dengan bahan songket, tetap saja menghasikan sesuatu yang indah dan enak dipakai.

Saat ini, produk kerajinan tenun songket tidak hanya sebagai bahan pakaian semata. Namun, songket mulai diolah menjadi berbagai produk kerajinan. Mulai dari tas, dompet, bahkan hingga sepatu dan sendal.

Tidak hanya Tiong, Linda Amalia Sari Gumelar, istri Agum Gumelar, mantan Menteri Perhubungan yang hadir pada pembukaan festival mengaku takjub dengan karya kerajinan tangan tersebut. “Karya kerajinan ini harus terus dilestarikan.

Caranya dengan menjadikannya sebagai produk unggulan, dan memakainya. Sebab, tenun songket memiliki kekhasan tersendiri. Ini kekayaan bangsa,” ujar Linda Amalia Sari Gumelar.

Sebelumnya, Ketua Dekranasda Sawahlunto Yenny Ali Yusuf mengatakan, saat ini songket Silungkang menjadi kerajinan yang tersebar di setiap kecamatan. Melalui tangan-tangan terampil kaum ibu dan para kader PKK, kerajinan ini terus berkembang.

Beberapa tahun lalu, jumlah perajin tenun songket Silungkang masih berjumlah di bawah 200 orang. Kini sudah melebihi 733 perajin. “Kami menargetkan pertumbuhan perajin mencapai 50 orang setiap tahunnya. Dengan memberikan pelatihan dan pemberian alat tenun bukan mesin pada setiap perajin usai pelatihan,” kata Wali Kota Sawahlunto, Ali Yusuf

Bagi pemko, kata Ali Yusuf, selain menjadi pendorong perekonomian masyarakat, keberadaan tenun songket juga jadi pendukung pariwisaata sebagai oleh-oleh khas Sawahlunto.

Wisatawan belum merasa lengkap ke Sawahlunto, jika belum membawa pulang oleh-oleh khas songket tenun Silungkang, hasil kerajinan tangan-tangan lembut wanita Sawahlunto.(*)