Geliatkan Pariwisata di Tanah Minang

Dalam membangun sektor pariwisata di Sumatera Barat, Pemerintah Kab/Kota yang berada di Provinsi Sumatera Barat juga aktif melaksanakan berbagai kegiatan dan event promosi yang berdampak pada citra positif pariwisata Sumbar. 

"Sumatera Barat sangat menyadari bahwa potensi pariwisata di Sumbar cukup besar. Karena itu, perlu sinergi antara Pemerintah Provinsi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota untuk memaksimalkan potensi pariwisata Sumbar," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Barat, Drs. H. Burhasman, M.M saat audiensi bersama TRIAS Politika.

Potensi pariwisata di Sumatera Barat terus menggeliat. Dengan memiliki Wisata alam (Danau, Lembah, Hutan Hujan Tropis, Garis Equator, Pantai, Laut) dalam kondisi yang masih terawat. Areal Surfing yang bisa dinikmati sepanjang tahun, sungai dan tebing yang bisa dinikmati para pencinta wisata minat
khusus. 

Ditambahkan lagi Flora dan Fauna, seperti Bunga Rafflesia dan Ikan Bilih sebagai endemik di Danau Singkarak. Belum lagi beraneka ragam budaya yang diiringi berbagai atraksi dan kearifan lokal yang spesifik. Tidak salah jika Sumatera Barat saat ini menjadi salah satu destinasi populer bagi wisatawan nasional dan mancanegara.

Sumatera Barat dengan etnik Minang merupakan komunitas matrilineal terbesar di dunia. Sampai saat ini juga, di Sumatera Barat juga masih terpelihara objek sejarah dengan berbagai peninggalan yang cukup atraktif untuk dipelajari. Belum lagi, wisata kuliner yang sudah terkenal di dunia yang sangat variatif dan ditambah wisata agro/ekonomi yang cukup menarik serta berbagai event tradisi yang unik dan spesifik. Semua ini diiringi dengan peninggalan dan aktivasi religi yang cukup menarik untuk dilihat dan dipelajari.

"Sumatera Barat sangat menyadari bahwa potensi pariwisata di Sumatera Barat cukup besar," kata Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumatera Barat, Drs. H. Burhasman, M.M saat audiensi bersama TRIAS Politika. Ia menambahkan, saat ini, Sumbar juga sudah siap dan telah ditetapkan menjadi destinasi MICE di Indonesia.

Menyadari akan potensi besar itu, Burhasman mengatakan, maka Pemerintah Provinsi Sumbar melakukan berbagai kebijakan. Pertama, melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat bahwa potensi pariwisata adalah aset yang bisa mengangkat kesejahteraan masyarakat tanpa merusak lingkungan (karena konsep pariwisata adalah pelestarian dan pengembangan potensi).

Burhasman memberikan contoh, Kota Sawahlunto tadinya adalah Kota Tambang Batubara. Ketika deposit Batubara mulai menipis dan produksi mulai berkurang, ternyata dengan menjadikan sektor pariwisata sebagai fokus pembangunan maka Sawahlunto mampu menjadi kota dengan angka kemiskinan nomor dua terendah di Indonesia setelah Denpasar.

"Mengedukasi masyarakat tentang pariwisata bukan tanpa tantangan, hal ini karena masyarakat minang sebagai masyarakat yang kuat adat dan agamanya, namun dengan melihat konsep kepariwisataan dari sudut dan agama itu sendiri, secara bertahap konsep ini diterima dan didukung oleh masyarakat," ujar Burhasman.

Kedua, memasukan substansi pengembangan kepariwisataan melalui regulasi perencanaan pembangunan di Sumatera Barat, Perda Sumatera Barat Nomor 7 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Sumbar 2005 - 2025 dan Perda Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pembangunan Jangka Menengah Sumatera Barat 2010 -2015 yang merupakan rujukan kebijakan pembangunan di Sumbar memuat sektor pariwisata sebagai salah satu sektor unggulan dan prioritas, dengan demikian pembangunan dan pengembangan kepariwisataan sudah merupakan amanat rakyat Sumbar melalui DPRD. Selanjutnya, Burhasman mengatakan, kami baru saja menetapkan Perda nomor 4 Tahun 2014 tentang Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Provinsi Sumbar yang merupakan amanat UU No. 10/ 2009 tentang Kepariwisataan dan PP 50/ 2011 tentang Riparnas sebagai revisi atas Riparda yang lama, dengan demikian Sumatera Barat sudah memiliki landasan hukum yang kuat dan arah yang jelas dalam pembangunan kepariwisataan.

"Pada tahun 2014 ini kami juga melakukan penyempurnaan dan penajaman pada aspek kelembagaan, baru saja ditetapkan Perda tentang perubahan numenklatur Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumbar menjadi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif," tutur Burhasman.

Ia menambahkan, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat menyadari bahwa sektor pariwisata dan sektor ekonomi kreatif merupakan dua hal yang saling berhubungan secara simbiosis mutualisme. Oleh karena itu, Pemprov Sumbar tetap akan menggunakan nomenklatur Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dengan demikian, menurut Burhasman, secara regulasi, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan kepariwisataan di Sumatera Barat sudah cukup kuat.

Ketiga, melaksanakan promosi pariwisata. Berbagai kegiatan promosi telah Pemerintah Provinsi Sumatera Barat ikuti dan lakukan. Baik dalam bentuk sales mission, direct promotion, fasilitasi farm trip, diplomasi budaya baik di dalam maupun luar negeri. Kemudian Pemerintah Provinsi Sumbar juga menggelar berbagai event promosi dan pasar wisata.

Tour de Singkarak salah satu event tahunan yang didukung Kementerian merupakan sarana promosi unggulan bagi Sumbar. Karena event yang digelar mulai dari tahun 2009 sampai 2014 ini sudah melewati 18 Kabupaten/Kota (dari 19 Kab/Kota di Sumbar 2014 ini minus Kepulauan Mentawai, karena ini di kepulauan). Event Tour de Singkarak memiliki dampak yang multi dimensi untuk kepariwisataan di Sumbar. Dengan Tour de Singkarak, semua infrastruktur jalan akan baik karena akan dilalui pembalap (tahun 2014 sepanjang 1.250 km).