Sejarah Lahirnya Matrilineal diMinangkabau

Share :

Matrilineal adalah sebuah adat yang menurunkan warisan kepada pihak perempuan atau garis keturunan dari ibu. Di Indonesia masyarakat yang menganut matrilineal hanyalah masyarakat Minagkabau di Sumatera Barat.

Sementara itu Perempuan di Minangkabau merupakan harta pusaka bagi suatu keluarga sehingga keberadaannya mendapatkan posisi yang sangat terhormat bagi masyarakat. Minangkabau juga sarat dengan budaya dan ajaran muslim sehingga nilai-nilai kultural religius banyak mempengaruhi pola berpikir masyarakat di Minangkabau.

SEJARAH MATRILINEAL DI MINANGKABAU

Selanjutnya Sejarah matrilineal secara turun-temurun berdasarkan cerita para tokoh di Minangkabau berawal pada masa kepemimpinan Datuk Katumanggungan dan Datuak Parpatiah Nan Sabatang di Minangkabau yang kemudian diserang oleh panglima perang kerajaan Majapahit Adityawarman dilansir dutadamai.com. 

Oleh karena kerajaan Minangkabau memang kerajaan yang tidak menyukai peperangan dan lebih menyukai cara-cara damai, maka Datuk Katumanggungan berupaya keras mencari cara agar peperangan benar-benar terhindar dan tidak terjadi di bumi Minangkabau. Hingga akhirnya Datuk Katumanggungan bersiasat pada saat panglima Adityawarman sampai di bumi Minangkabau, maka beliau tidak akan disambut dengan pasukan dan peperangan, melainkan disambut dengan keramah-tamahan dan akan dipinang untuk dijodohkan dengan adik kandungnya yang bernama putri Jamilah.

Dan akhirnya sampailah panglima perang Majapahit Adityawarman di ranah Minangkabau. Adityawarman yang datang dari Jawa merasa kaget dengan penyambutan yang dilakukan oleh tentara Minangkabau. 

Dengan Utusan dari istana Pagaruyung datang menemuinya dan mengatakan niatnya untuk meminang panglima Adityawarman untuk dinikahkan dengan sang putri dari kerajaan yaitu putri Jamilah yang merupakan adik dari Datuk Katumenggungan.

Melihat gelagat bahwa panglima Adityawarman akan menerima tawaran itu, maka sang Datuk berusaha mencari cara agar keturunan Putri Jamilah nantinya tetap menjadi orang Minangkabau dan agar semua orang tahu bahwa keturunan Putri Jamilah mendapatkan warisan dari kerajaan Minangkabau dan bukannya mendapatkan warisan dan kekuasaan dari Adityawarman.

“Nan dikatokan adat nan batali cambua, iyolah hubungan mamak dengan bapak, dalam susunan rumah tango, sarato dalam korong kampuang. Dek Datuak Parpatiah nan Sabatang, didirikan duo kakuasaan, balaku diateh rumah tango, iyolah tungganai jo rajonyo, nan korong kampuang barajo mamak, rumah tango barajo kali, di rumah gadang batungganai. Dicambua tali malakek”

Yang artinya: “Adat batali bacambua mengatur hubungan antara bapak dan mamak. Intinya, di dalam rumah tangga terdapat dua kekuasaan, pertama kekuasaan bapak, kedua kekuasaan Mamak, yaitu saudara laki-laki dari pihak ibu. Pemikiran itu dibawa Datuk Parpatiah Nan Sabatang pada musyawarah dengan cerdik pandai di balairung sari. Menyadari penting perubahan mufakat didapatkan”.

Dahulu bapak mewariskan kepada anak sekarang harus kepada kemenakan. Dahulu suku didapat dari bapak, sekarang dari ibu. Ini tidak lebih dari kecerdikan Datuak Parpatiah Nan Sabatang dan Datuk Katumenggungan. Dengan datangnya Adityawarman, ia tetap menginginkan agar kekuasaan tetap berasal dari Datuak Katumanggungan.

Cerita tersebut yang secara turun-temurun dipercaya oleh masyarakat minangkabau sebagai cikal bakal dari gerakan matrilineal yang masih dijalani oleh masyarakat Minangkabau hingga sekarang terkait dengan garis keturunan dan warisan yang ditetapkan berdasarkan garis keturunan ibu. Hak perwalian secara adat dari seorang anak bukan terdapat pada ayah kandungnya atau ayah biologisnya, melainkan ada pada paman atau saudara laki-laki ibu yang dalam bahasa Minangkabau disebut mamak

Secara alamiah yang mengandung, melahirkan, menyusui, mengajarkan anak berkata-kata dan mendidiknya adalah seorang ibu. Sedangkan ayah sedikit sekali mendapat kesempatan untuk bergaul dengan anak-anak dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhannya. Seorang ayah lebih banyak berada di luar rumah karena harus mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan istri dan anaknya. 

Sistem sosial yang ditetapkan berdasarkan kondisi-kondisi yang objektif alamiah tersebut menyebabkan sistem ini menjadi sistem yang universal dan sangat kuat mengakar dalam masyarakat Minangkabau. Sehingga betapapun derasnya arus perubahan yang dibawa merongrong kekokohan posisinya, dia tetap tegar. Misalnya arus perubahan yang dibawa oleh, arus modernisasi ataupun arus merantau. Faktor-faktor tersebut tidak mampu menggeser kedudukan ini, bahkan yang terjadi malah sebaliknya, faktor-faktor ini membuat posisinya semakin kuat.

Dengan berdasarkan realitas tersebut, oleh karenanya kekhwatiran akan melemahnya sistem matrilineal dan akan bergeser oleh sistem patrilineal tidak perlu menjadi suatu ketakutan yang berkepanjangan sebab sistem ini akan tetap dianut oleh masyarakat Minangkabau, selama masih ada kaum ibu yang mempertahankan citranya dan kodratnya sebagai wanita.

Sampai sekarang masyarakat Minangkabau masih menganut agama Islam, akan tetapi dalam hal ini terjadi proses akomodasi yang seimbang. Pada satu pihak orang Minangkabau harus menjalankan esensi ajaran Islam yang murni dan pada pihak yang lain mereka tetap mempertahankan keaslian adat dan sistemnya.