Penjelasan Ahli, Terhadap Branding Pariwisata Sumbar “Taste of Padang”

Taste of Padang, sudah ditetapkan sebagai branding pariwisata Sumatera Barat. Proses yang panjang, melibatkan seluruh unsur pemangku kepentingan, survei di masyarakat dan menampung berbagai masukan nyaris final. Hanya terdapat beberapa masukan terhadap perubahan dominasi warna pada desain “Taste of Padang” dari hasil diskusi, kamis lalu.

Dimanapun daerahnya, kesepakatan tentu saja tidak bisa didapatkan secara absolut.

Berikut kami muat penjelasan ahli branding, Haris Satria dalam sebuah grup diskusi. (Diedit seperlunya - red)

Taste of Padang

Disini saya tidak sedang membahas hasil kesepakatan Destination Branding Padang, cuma saya hanya akan akan melihat dari perspektif branding.

Pertama, project destination branding ini wilayah kerjanya untuk kemenpar, targetnya wisatawan, diserahkan kepada pihak ketiga yang ditunjuk melalui lelang (dianggap paham dengan keanekaragaman Indonesia)

Kedua, mengacu pada pengalaman sebelumnya, hasil destination branding untuk kota bandung dan jogja itu tidak diterima oleh, akhirnya mereka tetap memakai (.bdg) dan (jogja istimewa) karena mereka berfikir keberagaman itu indah, kita tidak bisa disamakan melalui warna logo, bentuk dll.

Ketiga, hal ini telah disepakati dan di deklarasikan, yang datang kamis kemaren harusnya bisa menyampaikan hal” yang kurang tepat, tidak boleh menerima saja kalau rasanya tidak cocok.

Keempat, kalau kebutuhannya untuk pariwisata, seperti orang bandung bilang: “mangga dipake untuk kebutuhan dinas pariwisata yang mengacu ke kemenpar”, tapi kebutuhannya kota, cakupannya jauh lebih luas, mesti dikaji ulang.

Dan yang terakhir, semua tergantung pada pemangku kebijakan (pemerintah) dan pemangku kepentingan (masyarakat), apakah sepakat
Untuk mengaplikasikannya atau tidak.