Sumbar Gelar Sertifikasi Kompetensi Bagi Tenaga Kerja Pariwisata

PADANG - Peningkatan kualitas dan kompetensi SDM pariwisata menjadi salah satu kunci untuk memenangkan persaingan global yang semakin kompetitif, namun masih terasa kurangnya SDM di bidang pengelolaan dan pelayanan pariwisata terutama perencanaan implementasi pelayanan dan manejemen pemasaran masih terbatas. Untuk itu perlu diberikan sertifikasi dan kompetensi untuk meningkatkan kapasitas pengelola usaha pariwisata dalam bentuk uji kompetensi, demikian disampaikan Kasi Kerjasama dan Usaha Pariwisata, Megarina,S.E, dalam laporan pembukaan.

Dinas pariwisata provinsi Sumatera Barat mengadakan kegiatan sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja pariwisata, dengan mengusung tema "Peningkatan Kompetensi SDM Pariwisata Bidang Perhotelan Sumatera Barat," di hotel Nikita Bukittinggi, Senin (8/5/2017). yang dibuka secara langsung oleh kepala dinas pariwisata provinsi Sumatera Barat, Oni Yulfian disaksikan Direktur Exclusive Lembaga Sertfikasi Profesional (LSP) hotel dan restoran beserta staf, dan semua peserta.

Kegiatan itu diselenggarakan dari tanggal 8-10 Mai 2017, dengan narasumber kepala dinas pariwisata provinsi Sumatera Barat dan Lembaga Sertfikasi Profesional (LSP) hotel dan restoran, adapun sasarannya "untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan SDM pariwisata yang tersertifikasi", sedangkan peserta yang mengikuti sertifikasi kompetensi ini adalah dari tenaga kerja perhotelan di Sumatera Barat pada bidang House Keeping, Front Office, Food and Bavarage dengan jumlah peserta sebanyak 50 orang. Metode kegiatan itupun dengan pola sosialisasi dan uji kompetensi serta dilanjutkan dengan praktek lapangan.

Oni Yulfian kepada Minangkabaunews setelah pembukaan mengatakan, sebagai stadard bahwa orang itu sudah melewati atau memenuhi sertifikasi tertentu, seorang yang berkompeten itu ada tiga hal, yaitu ilmu pengetahuan, ketrampilan, perilaku. Ketiga-tiga ini harus sejalan, jika salah satu tidak sejalan, orang itu belum bisa dikatakan kompeten. Secara umumnya dalam berkompetensi orang itu bersertifikat, orang itu akan lebih unggul dibandingkan yang tidak mempunyai sertifikat, ucap Oni Yulfian.

"Kita berusaha semua tenaga pariwisata itu bersertifikat kompetensi, target kita semua akan bersertifikasi, tapi untuk tahun 2017 ini hanya 50 orang yang mengikuti uji kompetensi. Dengan adanya MEA, ini suatu tantangan untuk kita, di Asean kalau dilihat secara porsentasi, posisi Indonesia diantara negara-negara Asean begitu-begitu saja, bahkan cenderung turun. Artinya tingkat kompetensi tenaga kerja kita dibandingkan di negara-negara Asean, kita masih lebih dibawah. Jadi dari itu kita harus serius untuk menegakan standard tenaga kerja," tuturnya.

"Mengenai jumlah wisatawan mancanegara di tahun 2016 yang masuk ke Sumatera Barat sekitar 49.000 pengunjung, sedangkan wisatawan nusantara sekitar 7,3 juta pengunjung. Ini sangat kecil sekali, potensi kita sebenarnya sangat luar biasa. Kendala yang kita hadapi kini masalah insfrastruktur yang perlu dibenahi, seperti jalan menuju tempat wisata yang padat lalulintas, terutama di waktu liburan," jelasnya.

"Disamping itu, dalam pengembangan pariwisata berbasis agama dan budaya, saya menghimbau seluruh hotel di Sumatera Barat harus berkostum sopan sesuai dengan agama dan mengenakan kostum budaya lokal, mengenai harinya kan bisa diatur owner hotel," kata Oni Yulfian.

(Minangkabaunews)