Festival Randai

Sawahlunto - Pemerintah Kota Sawahlunto, Sumatera Barat, menjadwalkan kegiatan festival seni tradisi khas suku Minangkabau, Randai, tingkat pelajar sebagai agenda tahunan mulai 2017.

"Wacana itu merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menanamkan rasa kecintaan generasi muda terhadap seni tradisi sejak dini," kata Wali Kota setempat, Ali Yusuf di Sawahlunto, Senin.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan serupa juga akan dilaksanakan untuk tingkat Provinsi Sumatera Barat yang telah dimuali pihaknya pada 2016.

Menurutnya, pelaksanaan kegiatan tersebut diyakini mampu meningkatkan kualitas penampilan kesenian tersebut oleh masing-masing kelompok hingga semakin menarik dan menghibur agar tumbuh dan berkembang sebagai salah satu media promosi bidang kepariwisataan dari sektor pelestarian seni tradisi dan budaya.

"Seperti baru-baru ini, Pemerintah Kota Sawahlunto melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat telah melaksanakan kompetisi lima kelompok Randai di Sumatera Barat yang menjadi pemuncak pada festival randai tingkat provinsi yang diselenggarakan pada Agustus 2016," jelasnya.

Pada kesempatan itu, tambah dia, pihaknya menyediakan total hadiah berupa uang pembinaan sebesar Rp8,5 juta dan bantuan uang transportasi masing-masing sebesar Rp1 juta bagi seluruh kelompok randai itu.

Sementara itu, salah seorang pemerhati sekaligus pelaku seni tradisi randai, Yumartias SPd saat dihubungi mengatakan sejauh ini upaya regenerasi terhadap kesenian tersebut sudah berjalan baik hampir di seluruh Sumbar.

Bahkan, sebutnya, kelompok randai yang dipimpinnya sudah mulai mengembangkan kisah yang mereka bawakan sudah disesuaikan terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan patron dan pakem dari kesenian tradisi itu sendiri.

"Baru-baru ini kami mencoba menyosialisasikan gerakan sadar berlalu lintas dengan mengangkat permasalahan lemahnya minat menggunakan alat pelindung kepala yang disajikan dalam bentuk tradisi randai," ujarnya.

Sejauh ini, jelasnya, minat masyarakat untuk menyaksikan penampilan seni randai semakin meningkat, tinggal lagi bagaimana kepedulian pemerintah dalam mendorong daya kreasi dan inovasi masing-masing kelompok seni itu untuk berkembang menjadi sebuah ikon budaya yang dapat diandalkan sebagai media promosi pariwisata serta bidang-bidang pembangunan lainnya di tengah masyarakat luas.

Sebelumnya, Budayawan asal Sumatera Barat, Zulkifli SKar MHum Dt Sinaro Nan Kuniang mengatakan seni tradisi randai diawali dengan adanya penampilan rombongan kesenian bangsawan Melayu dari Kerajaan Malaka, yang menampilkan sebuah kesenian berupa gabungan antara seni peran dan seni karawitan pada 1920.

"Kesenian tersebut diperagakan kepada seluruh kelompok masyarakat etnis Melayu yang ada di Asia, termasuk suku Minangkabau di Sumatera Barat, dan menjadi cikal bakal lahirnya sejumlah aliran kesenian sejenis oleh kelompok ras melayu seperti Randai di Sumatera Barat, Dul Muluk di Sumatera Selatan serta seni Ketoprak, Ludruk dan Lenong di Pulau Jawa," kata dia.