Sejarah Wayang Mbah Suro Kembali Diceritakan

Sawahlunto - Sriyanto, dalang pertama yang tampil dalam Festival Wayang Nusantara di Sawahlunto mengibas-ngibaskan wayang kulit di tangannya. Tidak seperti dalang yang biasa menggunakan bahasa Jawa sebagai penyampai narasi, malam 3 November itu, Sriyanto menggunakan bahasa Indonesia. Kisah yang disampaikan adalah sejarah orang rantai di Sawahlunto.

"Tahun 1855, krisis ekonomi di eropa mendorong Belanda yang berkuasa terus mencari hasil bumi baru," begitu kata Sriyanto memulai kisahnya.

Dia membangun cerita dengan bahasa Indonesia yang jelas. Alunan musik gamelan yang mengiringi cerita Sriyanto juga mengalun naik turun mengikuti alur dan carita. Jika cerita dalang mengisahkan upaya perlawanan orang-orang rantai, maka gendang dan gong akan dipukul lebih cepat. Ritme musik selalu mengikuti jalan cerita.

Dengan leluasa sang dalang bertutur dan berganti peran. Dia dengan gampang mengganti nada suara sesuai lakon yang sedang dimainkan di bawah cahaya lampu. Suara merintih dan sedih akan digunakan saat memainkan lakon rakyat jelata. Nada suara kebarat-baratan, serupa turis yang terbata berbahasa Indonesia akan dikelurakan saat memerankan kompeni.

Saat orang-oran rantai yang berasal dari berbagai penjuru negeri ingin mengobarkan perlawanan terhadap kompeni, suara dalang pun ikut meninggi. Dari tuturan dalang, akibat perlawanan mereka, sejumlah orang dibuang dan sebagian lagi dipekerjakan dalam proyek besar tambang batubara secara paksa.

"Para pekerja paksa yang terdiri dari beberapa etnik di nusantara tersebut mengerahkan segala kekuatanya untuk terus melawan penjajah," tutur Sriyanto.

Sriyanto terus berkisah. Suaranya masih saja terus berubah sesuai lakon yang dimainkan. Lwat wayang dia kembali mengulang sejarah yang terjadi di Sawahlunto. Sejarah yang sama yang juga membentuk kebudayaan masyarakat Sawahlunto hari ini.