Festival Wayang, Seni Tradisi Juga Milik Anak Muda

Sawahlunto - Bunyi yang keluar dari lubang saluang membius orang-orang yang berkumpul di Lapangan Segitiga Sawahlunto, Kamis 3 November malam. Nada-nada pentatonik itu diselingi sebait dendang minang yang membuat hati tergetar, namun dari bibir panggung penonton malah bersorak dan bertepuk tangan.

Sejurus kemudian tabuhan bonang saling bersautan. Komponen musik gamelan yang bentuknya menyerupai talempong itu membuat ritme musik makin tinggi. Bunyi gong menggema dari sudut panggung. Dendang minang segera berubah menjadi larik-larik dengan nuansa jawa yang kuat.

Tangka Ensemble yang berisi mahasiswa dari ISI Padangpanjang dan seniman Bina Laras dari Sawahlunto berhasil menyatukan keberagaman budaya dan etnik lewat sebuah pertunjukan musik. Pertunjukan ini menjadi salah satu gubahan karawitan yang membuka Festival Wayang Nusantara IV.

"Jika kebudayaan dan kesenian juga diminati anak-anak muda, itu bisa menjadi pertahanan pertama dari penetrasi budaya barat," ujar Walikota Sawahluto Ali Yusuf saat pembukaan festival.

Ali menjelaskan anak-anak muda di Sawahlunto selalu didorong untuk mengenal dan belajar berkesenian. Pemerintah, kata dia, terus berupaya untuk membantu dengan segala cara yang ada seperti menyediakan fasilitas latihan dan alat musik. Dia menjelaskan di Sawahlunto, kesenian dan kebudayaan telah menyatu menjadi satu kesatuan utuh meski masyarakatnya terdiri dari etnik dengan budaya berbeda.

Musik gamelan misalnya, kata Ali, dimainkan oleh anak-anak muda dari Kolok, Silungkang, Talawi, dan daerah lainnya. Dan mereka bukanlah anak-anak dari keluarga Jawa. Begitu juga dengan kebudayaan randai. Anak-anak dari keluarga Jawa juga bersemangat belajar memainkan randai.

Siswa dari SMAN 1 Sawahlunto yang menampilkan pertunjukan musik malam itu, seperti membenarkan perkataan Ali. Mereka menampilkan komposisi musik gamelan, namun lirik yang dimainkan adalah lirik-lirik dendang dari Minangkabau. Lagu Andom Oi dimainkan lewat tabuhan gamelan dengan ritme yang membuat tubuh ingin bergoyang.

Malam itu hujan turun, namun orang-orang di Sawahlunto berkumpul hingga larut malam. Orang-orang mengenakan blangkon dan kain batik. "Bunyi gamelan ada panggilan, di mana saudara berkumpul," ujar Bagus, seorang seniman dari Sangkar Bina Satria.