A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Only variable references should be returned by reference

Filename: core/Common.php

Line Number: 257

Generasi Piknik Indonesia | Genpiknik.com - Indonesia Travel, Budaya, Kreatif

Cerita Tentang Wayang dan Toyo Muda

PADANG - Kapan terakhir kali mas menonton wayang? Pertanyaan ini membuat raut wajah Toyo yang tadi ceria seperti biasa menjadi datar tanpa emosi. Pandangannya nanar, selama beberapa detik dia seperti tidak berada dalam tubuhnya, matanya kosong. Pikirannya menerawang jauh.

Dia kemudian menghembuskan asap rokok yang dari tadi tertahan di mulutnya. Kemudian melentingkan puntung dan merogoh sakunya. Rokok berikutnya telah tergantung di ujung bibirnya. Dia menyulutnya dan menarik satu hisapan dalam lalu membuang asapnya ke udara.

"Sudah lama sekali, dek," katanya tak lama kemudian. Pandangannya masih saja entah ke mana.

Toyo, atau mas Toyo adalah perantau Jawa pertama yang saya kenal sejak pertama kali saya menginjakkan kaki di Padang. Meski saya Minang dan dia Jawa, di Padang ternyata kami sama-sama perantau. Saat pertama kali bertemu,Toyo sudah membuka kedai sederhana yang menjual kebutuhan harian, Hubungan kami sangat sederhana, penjual dan pembeli, itu saja.

Hampir sepuluh tahun dan saya telah  berpergian ke sana-kemari. Saat kembali ke Padang Toyo masih saya temui di kedainya, yang memang tak lagi sederhana. Banyak hal berubah, tapi tidak pribadi Toyo.

Toyo kemudian bercerita, pertunjukan wayang terakhir kali dia saksikan pada tahun 1990 di desanya di Madiun, Jawa Timur. Pertunjukan wayang, bisa disamakan dengan kenduri besar. Jalan-jalan di desa akan lebih terang. Anak-anak diperbolehkan bermain lebih larut oleh orang tua. Kembang api dan jajanan pasar yang beragam banyaknya juga akan tersedia.

Dan yang terpenting, katanya sambil tersenyum, gadis-gadis kembang desa akan berdandan lebih cantik dari biasa. Dan sungguh mereka memang terlihat lebih cantik ketika malam hari.

"Waktu itu saya masih muda dek," ujar Toyo sambil tersenyum.

Sejak saat itu, Toyo tak pernah lagi menyaksikan pertunjukan wayang. Meski cukup sering pulang ke desanya, namun Toyo tak pernah lagi menonton wayang. Apalagi selama merantau di Padang. Wayang adalah barang langka. Wayang  bagi Toyo telah menjadi bagian kisah masa mudanya.

Di kampungnya, Toyo lanjut bercerita, kisah wayang selalu bercerita tentang perjalanan hidup. Lakon yang dimainkan biasanya berkisah tentang Wali Songo, sembilan wali yang tersohor karena menyebar agama islam ke seluruh pelosok Jawa.

Pertunjukan wayang biasanya bercerita tentang bagaimana menjalani hidup dengan lurus. Melakukan apa yang benar sesuai nilai masyarakat dan agama. Menurut Toyo, isinya adalah petuah-petuah dan ajaran. Jika kita bisa menangkap maknanya, kata Toyo lagi, banyak pelajaran yang bisa membuat hidup jadi lapang.

Saya menemui Toyo beberapa waktu yang lalu, setelah mendengar kabar bakal ada festival wayang kelas nasional di Sawahlunto. Wayang yang sebenar-benarnya wayang. Wayang yang dimainkan dalang, dalang yang dari Jawa, bukan dalang minang. Wayang yang diiringi gamelan dan suara merdu pada sinden.

Mendengar kabar itu, cuping hidung Toyo mekar-mekar, lantaran senang. Adiknya yang baru datang dari Jawa menyerbu saya dengan sejumlah pertanyaan. Kapan mas? Di mana mas? Siapa yang main? Gini mas? Gitu mas?. Setelah saya jelaskan mereka berdua tampak senang, lalu kemudian saling bicara dalam bahasa yang tak saya mengerti. Sambil tertawa mereka berucap terima kasih.

Toyo barangkali adalah satu dari sekian banyak masyarakat jawa di Sumatra yang harus minggat dari tanah kelahiran. Pulau Jawa yang kian padat, tidak dibarengi dengan pekerjaan yang layak. Di masa Orde Baru, gelombang manusia dari jawa didorong berpindah mengisi lahan-lahan kosong di Sumatra. Mereka yang dipindahkan, terpisah dari tanah kelahiran. Bercerai dari kebudayaan dan keseniannya..

Toyo dan adiknya pasti jauh lebih beruntung dari pekerja-pekerja jawa yang didatangkan paksa oleh kolonial Belanda untuk mengeruk batubara dari bukit-bukit di Sawahlunto sana. Hanaya pertunjukan wayang dan musik gamelan yang menjadi hiburan para penambang yang didera kelelahan itu.