Festival Wayang, Budaya dan Nostalgia Jawa di Sawahlunto

SAWAHLUNTO - Sebagian besar orang-orang Jawa didatangkan secara paksa ke Sawahlunto pada ujung abad ke-18 sebagai pekerja tambang. Mereka diangkut dengan kapal-kapal besar untuk mengeluarkan batubara dari perut bukit-bukit di sepanjang sungai Lunto. Tenaga ekstra ini didatangkan oleh pemerintah kolonial karena, tenaga kerja pribumi kala itu tak lagi memadai.

Para pekerja didatangkan dan kemudian terus dipekerjakan selama bumi Sawahlunto masih mengandung batubara. Artinya mereka bakal bekerja dalam waktu yang lumayan lama. Untuk menjaga etos kerja pekerja migran, pihak kolonial melakukan banyak hal. Sama dengan bos-bos zaman kini, para penguasa kala itu menjanjikan hiburan sebagai bonus bagi pekerja yang tekun.

Wayang, adalah satu bentuk hiburan yang didatangkan, atau ikut datang bersama para pekerja ini. Pada malam hari atau di waktu-waktu tertentu, pertunjukan wayang akan digelar untuk menghibur hati para pekerja yang rindu rumah. Atau sekedar mengisi malam-malam yang panjang di tanah yang asing.

"Wayang menjadi kebudayaan yang dibawa oleh masyarakat Jawa saat mereka tiba dan menetap di Sawahlunto," ujar Sukri, pihak penyelenggara festival wayang di Sawahlunto.

Sukri mengatakan kesenian wayang sama halnya di daerah manapun di Indonesia telah melekat sebagai identitas masyarakat Jawa. Festival Wayang Nusantara, kata dia, pada gagasan awalnya berniat untuk mengangkat kesenian dan budaya masyarakat Jawa di Sawahlunto sebagai kekayaan budaya Sawahlunto.

Sawahlunto telah tumbuh menjadi kota yang multietnik. Beragam kebudayan telah tumbuh dan bercampur sejalan dengan manusianya yang terus menjalin hubungan baik. Wayang dan kesenian Jawa lainnya juga telah ikut membentuk kebudayaan Sawahlunto hari ini.

Festival Wayang Nusanatara ke-4 yang digelar awal November nanti, kata Sukri, akan menjadi sebuah usaha untuk mengingat sejarah sekaligus menjaga kebudayaan yang telah tumbuh sejak lama. "Pertunjukan wayang akan digelar untuk menghibur hati para pekerja yang rindu rumah. Atau sekedar mengisi malam-malam yang panjang di tanah yang asing" Festival ini akan menjadi pesta budaya, khususnya bagi masyarakat Jawa yang kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Sawahlunto.