Festival Musik Karawitan

Sawahlunto - Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Sawahlunto, Sumatera Barat (Sumbar), menggelar festival musik karawitan tingkat pelajar SLTA pada 9 hingga 10 September 2016.

"Festival tersebut merupakan ajang penyaluran bakat bagi siswa/siswi setingkat SLTA di Sumatera Barat berupa penampilan segala macam bentuk kesenian yang berakar dari kebudayaan tradisional nusantara," kata Kepala Dinas Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Efri Yanto, di Sawahlunto, Rabu.

Pada kegiatan yang dikemas dalam program "Festival Musik Karawitan 2016" itu, setiap kelompok peserta beranggotakan minimal lima orang dan maksimal sepuluh orang.

Peserta diminta menampilkan sebuah repertoar komposisi musik kreasi dari ide garapan yang berakar dari kesenian tradisional atau dinamika sosial yang ada di sekitar lingkungan mereka, seperti aktifitas menenun, bertani dan lain sebagainya.

Durasi penampilan kelompok seni karawitan tersebut dibatasi hanya enam hingga sepuluh menit, dan sebelumnya harus menyerahkan sinopsis serta konsep garap tentang materi musik yang akan dimainkan meliputi judul karya, jumlah personil, formasi personil dan informasi lain yang berkaitan dengan materi karya yang akan ditampilkan.

"Unsur penilaian oleh dewan juri meliputi penciptaan komposisi musik, kemampuan musikal personil, kontribusi masing-masing instrument terhadap ide garapan serta pengaplikasiannya saat ditampilkan, dan bagi pemenang akan mendapatkan hadiah tropi dan uang tunai senilai Rp47,5 juta," kata dia.

Sementara itu, salah seorang budayawan asal Sumatera Barat, Susandra Jaya MSn, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut karena merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya nusantara dengan menggali keanekaragaman kesenian yang ada di Sumatera Barat.

"Kegiatan seperti ini seyogyanya dapat menjadi referensi bagi banyak orang untuk mengangkat pamor musik tradisional maupun kreasi yang berakar dari kebudayaan tradisional Minangkabau," kata dia.

Dia menjelaskan, karawitan berasal dari bahasa Jawa, "rawit" berarti rumit, berbelit-belit, tetapi rawit juga berarti halus, indah-indah, sedangkan kata "ngrawit" berarti suatu karya seni yang memiliki sifat-sifat yang halus, rumit, dan indah.

Di daerah Jawa, lanjutnya, kata karawitan khususnya dipakai untuk mengacu kepada musik gamelan, yaitu musik Indonesia yang bersistem nada dalam laras slendro dan pelog yang garapan-garapannya menggunakan sistem notasi, warna suara, ritme, memiliki fungsi, pathet (susunan nada) dan aturan garap yang tampak nyata dalam sajian gending, baik itu yang berbentuk sajian instrumentalia, vokalia dan campuran yang indah didengar.

"Sesuai dengan perkembangan yang ada, kata Karawitan juga mengalami perluasan makna sehingga tidaklah serta-merta mengacu kepada musik gamelan saja, tapi juga turut mendefinisikan kesenian tradisional yang tidak asing terdengar di kalangan seniman maupun masyarakat awam dan kalangan pendidik," kata dia.