Asita Sumbar Dukung Pengembangan Agrowisata

Asosiasi Perusahaan Biro Perjalanan Wisata Indonesia atau Asita Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mendukung pengembangan program agrowisata, karena alam daerah sangat potensial.

"Sekarang dan perspektif dunia wisata mengarah pada alam, maka potensi yang menjadi sasaran wisatawan agrowisata yang perlu dipersiapkan daerah-daerah destinasi," kata Ketua Asita Sumbar, Ian Hanafia di Padang, Kamis (3/4).

Ia menyebutkan pengembangan argowisata mesti diiringi pula dengan inovasi dan kreativitas yang terintegrasi dengan kegiatan lintas instansi di daerah, karena semuanya dapat dilibatkan.

Apabila ada wisatawan atau pengunjung yang ingin menanam sebatang pohon pada satu kawasan yang telah ditentukan, maka perlu ada bibit yang tersedia di kawasan tersebut.

Misalnya, ketika pengunjung dibawa ke sentra jeruk Gunung Omeh, di sana selain dapat menikmati manisnya rasa jeruk tetapi bisa menanam pula di kawasan tersebut.

Soal bibit dibayar maupun gratis tergantung bagaimana mekanismenya, tapi pola ini bisa diminati wisatawan saat datang ke suatu objek wisata. Begitu pula halnya dengan melibatkan instansi lain, misalnya PU dalam membantu pembenahan infrastruktur.

"Kalau dalam pengembangan agrowisata dengan pola program wisatawan menanam, banyak efek positifnya. Program instansi terkait terbantu dan wisatawan punya kesan tersendiri ke suatu kawasan tersebut," katanya.

Jadi, bagi wisatawan yang sudah menanam pohon di satu kawasan, maka pada satu waktu bisa diingatkan ke mereka tanamannya telah berbuah atau tumbuh rindang.

"Kesan yang terbangun seperti ini, tentu akan membuat banyak wisatawan untuk datang berulang kali ke daerah. Maka pembangunan pariwisata secara lintas sektoral," katanya.

Ia mengatakan obyek wisata bukan apa yang sudah ada saja, tapi dapat diciptakan sesuai dengan perkembangan wisatawan dan potensi daerah yang dapat menjadi daya tarik.

Sumbar memiliki potensi agrowisata luar biasa, ada kawasan Padang Mangatas (lahan satu hamparan yang diramaikan sapi), juga ada sentra kobi arabika dan robusta serta kebun teh terhampar luas di kaki Gunung Kerinci.

"Kami siap bersinergis dengan lintas sektoral di daerah dalam pengembangan sektor agrowisata, tapi semangat yang sama harus diperlihatkan," tegasnya.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Sumbar, Fajaruddin menyampaikan pengembangan program agrowisata/agrobisnis terbuka peluangnya di Sumbar, tapi dibutuhkan sinergitas dengan pemerintah kabupaten/kota.

Sebab, selama ini persepsi dalam melihat perkembangan suatu permasalahan berbeda satu sama lain, maka penting satu persepsi. Bahkan, menurut dia, tak kalah pentingnya dalam pengembangan sektor agrowisata kekuatan jaringan dan gagasan ide yang ditawarkan ke masyarakat.

Justru itu, seperti dilansir Antara, Disbun Sumbar beberapa waktu lalu menggelar kegiatan festival kopi, sebagai upaya menarik perhatian masyarakat luar ingin tahu.

"Pengembangan pariwisata dibutuhkan keamauan politik dari kepala daerah. Maka jajasan instansi lainnya akan mengikuti saja," katanya.(*)